أما بعد
إهدنا الصراط المستقيم
(Tunjukilah Kami jalan yang lurus)
TAFSIR اهدنا (Tunjukilah kami)
1. “IHDINA” (اهدنا ) terambil dari kata هدي (HADYUN) berarti “tampil ke depan memberi petunjuk” atau “menyampaikan dengan lemah lembut”
2. هدي – هداية (petunjuk, hidayah) menurut Syeikh Abdul Halim (Guru Besar Al-Azhar, Mesir) terdapat beberapa tingkatan :
· Petunjuk pertama disebut “naluri”. Terbatas pada penciptaan dorongan untuk hal-hal yang dibutuhkan. Seperti Allah memberi hidayah kepada lebah untuk membuat sarangnya dalam segi enam.
· Petunjuk kedua disebut “panca indera”. Naluri tidak mampu mencapai apapun yang ada di luar tubuh pemilik naluri. Maka Allah menganugerahkan hidayah berupa panca indera.
· Petunjuk ketiga disebut “akal”. Betapapun tajam dan pekanya panca indera sering kali hasil yang diperolehnya tidak menggambarkan hakikat sebenatnya. Seperti indera mata akan tertipu melihat tongkat yang lurus menjadi bengkok di dalam air.
· Petunjuk keempat disebut “agama atau iman”. Akal tidak mampu menuntun manusia ke luar jangkauan alam. Manusia membutuhkan petunjuk dari akal yaitu hidayah agama. (berapa banyak orang yang cerdas akalnya tetapi tersesat dari kebenaran)
3. “اهدناالصراط “ Dalam bahasa arab, kata هداية (bentuk perintah: اهد = tunjukilah) ada kalanya menyertai kata “إلى “ setelahnya dan ada yang tida menyertainya. Hal ini ada maksud tertentu, yaitu :
a. sebagian ahli tafsir berpendapat jika kata هداية disertai “إلى “ (contoh : اهدنا إلى ) berarti pemohon yang meminta petunjuk itu belum berada di jalan yang benar. Sedang jika tidak menyertai “إلى “ (contoh : اهدنا ... ) berarti pemohon yang meminta petunjuk telah berada di jalan yang benar.
- Atas dasar pendapat ini, maka “اهدناالصراط “ dalam surat Al Fatihah ini, mengisyaratkan si pemohon harus sudah dalam jalan yang benar.
- Sebagian ulama lain berpendapat jika kata هداية disertai “إلى “ (contoh : اهدنا إلى ) mengandung makna pemberitahuan. Sedang jika tidak menyertai “إلى “ (contoh : اهدنا ... ) mengandung makna pemohon tidak hanya diberi tahu petunjuk tetapi diantar dan dibimbing sampai ke jalan yang dituju.
- Atas dasar pendapat ini “اهدناالصراط “ dalam surat Al Fatihah mengisyaratkan petunjuk yang bukan sekedar petunjuk, tetapi dibimbing menuju tujuannya yaitu Shiratal Mustaqim.
TAFSIR الصراط المستقيم (Jalan yang lurus)
1. Secara bahasa “صراط “ artinya jalan. Arti yang sama dengan kata “سبيل” (jalan).
2. Walaupun “صراط “ dan “سبيل” mempunyai arti yang sama, yaitu jalan, tetapi ada perbedaan makna yaitu :
a. “صراط “ (jalan) : yaitu jalan yang hanya ada satu dan selalu benar. Sedangkan “سبيل” (jalan) : yaitu jalan yang banyak, bisa benar atau salah.
b. “صراط “ (jalan) : Bagaikan jalan tol. Bila telah ada di dalamnya tidak dapat ke luar kecuali telah tiba pada akhir tujuan perjalanan. Sedangkan “سبيل” (jalan) : Bagaikan jalan kecil yang anyak (lorong-lorong). Ada kalanya jalan itu benar dan bisa juga salah.
* Atas dasar ini, maka الصراط المستقيم yang pemohon minta adalah jalan yang pasti benar. Boleh saja pemohon menuju lorong-lorong asal keluarnya menuju shiratal musaqim.
3. الصراط المستقيم (jalan yang lurus) adalah jalan yang luas lagi lurus yang dapat mengantar kepada kebahagiaan dunia-akhirat.
4. Al-Qur’an menggunakan kata الصراط المستقيم bisa bermakna “ibadah”. Ibadah yang dimaksud adalah setiap kegiatan manusia yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari ridha-Nya.
صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولاالضالين. أمين
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
1. نعمة /”Nikmat” yang dimaksud adalah nikmat memperoleh hidayah serta menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya (nikmat kebenaran dan kebajikan. Bukan nikmat lainnya, seperti kekayaan, kekuasaan dan lainnya karena orang sesatpun mendapat nikmat)
2. أنعمت عليهم “Engkau beri nikmat kepada mereka”. Kata “mereka” yang dimaksud adalah para Nabi, Shiddiqin (orang-orang yang gigih dalam kejujurann, Syuhada (orang yang berpegang teguh dijalan Allan walau nyawa taruhannya) dan orang-orang shaleh)
3. المغضوب عليهم artinya “mereka yang dimurkai”. Kata “mereka” yang dimaksud adalah :
· Secara sempit, ditujukan kepada orang Yahudi. Mereka mengenal kebenaran tetapi mengingkarinya.
· Secara luas, ditujukan kepada semua orang yang mengenal kebenaran tetapi enggan mengikutinya.
4. المغضوب عليهم (mereka yang dimurkai). Kata yang bergaris bawah menggunakan kalimat pasif, mengandung makna agar tidak menisbatkan/menyandarkan sifat negatif kepada Allah. Berbeda ketika Al-Qur’an menggunakan kata أنعمت عليهم (Engkau memberi nikmat) menggunakan kalimat aktif, mengandung makna agar setiap kebaikan dinisbatkan/disandarkan kepada Allah.
5. ولاالضالين (bukan mereka yang sesat). Yang dimaksud ayat ini adalah :
· Orang yang tidak menemukan atau tidak mengenal petunjuk Allah (Islam)
· Orang yang pernah memiliki sedikit pengetahuan bahkan keimanan dalam hatinya tetapi pudar imannya.
· Orang yang berputus asa di jalan Allah.
6. Dianjurkan mengakhiri bacaan ini dengan ucapan “أمين “ (Amin), artinya :
· Ya Allah perkenankanlah!
· Ya Allah lakukanlah!
· Demikian itu Ya Allah. Maka semoga engkau mengabulkannya.
· Jangan kecewakan kami Ya Allah!
· “Amin” adalah salah satu nama Allah.
والله أعلم بالصواب
وصلى الله على خير خلقه سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين
Sumber : Tafsir Al-Mishbah, Prof. Quraish Shihab

No comments:
Post a Comment