أما بعد
"Kebersihan sebagian dari iman" ( النطافة من الإيمان ) begitu pepatah yang sudah tak asing di telinga kita yang sebenarnya bersumber dari Hadis Nabi Saw. Ya, Islam memang memerintahkan agar umatnya selalu bersih jasmani maupun rohani. Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang yang menyucikan diri ( إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين ). Demikian isi kandungan firman Allah di dalam Al-Qur'an. Begitu urgen kebersihan sehingga ia diposisikan teramat tinggi eksistensinya dan dianggap sebagai setengah dari sebuah keimanan seseorang. Jangan mengaku beriman jika kebersihan belum terwujud dalam diri dan sikap seseorang. Demikian konklusi yang agak ekstrim jika dikaitkan dengan hadis di atas.
Seorang muslim harus berpenampilan bersih, rapih dan sedap dipandang. Bukan permasalahan tampan atau tidak tampan (cantik atau tidak cantik), tetapi masalah kebersihan diri harus diprioritaskan. Sekalipun fisik seseorang kurang bagus menurut pandangan banyak orang, tetapi manakala ia berpenampilan bersih dan rapih maka akan terlihat indah juga. Oleh karena dipandang sebagai hal yang urgen, maka Islam menganjurkan untuk selalu bersih atau bersuci terutama ketika hendak beribadah. Dalam tulisan ini akan diurai dengan sederhana beberapa kajian filosofi kebersihan dalam Islam teutama ketika hendak beribadah. Semoga dengan pengetahuan secara filosofi ini akan menguatkan keimanan kita tentang segala perintah Allah yang termaktub dalam Al-Qur'an.
KAJIAN FILOSOFIS
Pada umumnya jika seseorang terkena kotoran baik di badan maupun di pakaian tentu badan terasa bau dan tidak enak, pakaian pun terasa lusuh dan tidak nyaman dikenakan. Kondisi ini lebih tidak sedap lagi ketika kita berhadapan dengan banyak orang. Oleh karena itu, biasanya setiap kali ingin berjumpa dengan orang lain, apalagi orang besar (pejabat dan orang terhormat) kita berusaha berpenampilan besih dan menarik, mengenakan pakaian yang paling bagus dan memeriksa dengan cermat agar tak ada satu pun kotoran yang menempel. Begitulah pada umumnya kebanyakan manusia.
Pertanyaan yang paling sederhana adalah, kalau berhadapan dengan manusia saja sedemikian kondisi penampilannya, bagaimana jika ia akan berhadapa dengan Tuhannya saat beribadah? Tentu seharusnya lebih diutamakan lagi. Maka sangat ironi sekali mana kala kita shalat tetapi pakaiannya tidak sebagus ketika bertamu ke rumah orang lain. Tentu sangat memprihatinkan pula manakala kita sedang berhadapan dengan Tuhan dalam shalat kebersihan dan kerapihan tidak mendapat perhatian khusus layaknya bertemu dengan manusia-manusia terhormat dan para pejabat lain.
Allah tidak melihat bentuk fisikmu, tetapi ia melihat isi hatimu! Demikian isi kandungan hadis Nabi Saw yang dijadikan sebagai hujjah (argumen) mereka yang mengabaikan pentingnya berpenampilan bersih dan rapih. Ini masalah adab, sopan santun dan tata krama kepada Zat Yang Maha Mulia, Allah SWT. Jangankan permasalahan kebersihan, shalat dengan berbusana yang hanya dapat menutupi aurat saja memang sudah dikatakan sah, tetapi akal sehat dan hati kecil ini pasti berkata, "betapa lancang dan tidak sopannya mengahadap Tuhan seperti ini". Urusan ibadah bukan dilihat dari unsur fikih saja, tetapi adab dan akhlak harus mendapat porsi besar. Bukankah Allah telah berfirman;
يبني أدم خذو زينتكم عند كل مسجد وكلوا واشربوا ولاتسرفوا إن الله لا يحب المسرفين
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
Ketahuilah! Sesungguhnya kewajiban bersuci (wudhu atau mandi) disebabkan beberapa hal, antara lain :
1. Pada umumnya manusia tidak luput dari kotoran (baik kotoran jasmani apalagi rohani)
2. Bahwa para Malaikat tidak mau mendekati orang yang kotor bajunya dan bau badannya, terlebih ketika seorang hamba sedang menghadap Tuhan (shalat)
3. Kebanyakan orang menyukai yang bersih, indah dan wangi. Ketika shalat berjama'ah jika badan kita tidak sedap baunya atau kusam bajunya pastilah mengganggu orang lain di sekelilingnya. Bukankah mengganggu orang lain termasuk perbuatan zalim?
4. Air sebagai media bersuci sesungguhnya akan berdampak pada kesegaran anggota yang kita basuh. Dengan kesegaran itu maka akan membangkitkan semangat dalam beribadah, meneteramkan hati dan memurnikan niat ibadah.
Di samping hikmah bersuci sebagaimana yang telah diurai di atas, sebagai tambahan yang perlu direnungkan juga adalah bahwa diri manusia terdiri dari dua unsur, nafsu bahimiyah dan nafsu malakiyah. Nafsu atau jiwa yang meyerupai kodrat hewani seperti makan, minum, kawin, tidur dan sebainya disebut nafsu bahimiyah. Sedangkan nafsu atau jiwa yang menyamai kodrat malaikat yang suci, patuh, taat dan tidak durhaka disebut nafsu malakiyah. Kedua macam nafsu ini dimiliki oleh setiap manusia. Ketika jiwa manusia sedang berperan di ruang lingkup nafsu bahimiyah maka berhentilah peran nafsu malakiyah.
Bersuci (wudhu dan mandi) adalah salah satu cara mengembalikan jiwa manusia kepada nafsu malakiyah, karena tak pernah ditemukan seekor binatang yang bersuci (wudhu) di setiap waktunya. Keterangan ini mengisyaratkan bahwa siapa saja manusia yang tidak pernah bersuci sama halnya seperti binatang. Maka dengan sifat kasih sayangnya Allah kepada hamba sehingga diperintahkanlah bersuci untuk menaikkan derajatnya sebagai manusia setara kepatuhannya dengan Malaikat. Dengan demikianlah jadilah ia menjadi manusia paripurna yang siap menghadapi Rabb, Allah swt.
Sebagai penutup dari tulisan ini, selayaknya seorang muslim harus menghayati dan menyadari tentang hakikat toharoh (bersuci) yang selama ini kita lakukan adalah ;
1. Mensucikan kotoran badaniyah seperti hadas dan najis.
2. Mensucikan kotoran bathiniyah yaitu dosa yang telah diperbuat anggota badan, seperti dosa tangan yang telah mengambil hak orang lain, dosa mata yang memandang bukan pada haknya, dosa mulut yang menggunjing orang lain dan langkah kaki ke tempat yang diharamkan.
3. Mensucikan kotoran hati yang selalu melintas, seperti prilaku hati yang mengarah kepada kedustaan dan kezaliman.
4. Mensucikan dari kotoran hati dari setiap niat selain kepada Allah swt
Selamat bersuci semoga menjadi manusia suci yang disenangi Zat Yan Maha Suci !
وصلى الله وسلم على خير خلقه سيدنا محمد وعلى أله وصحبه
Ditulis oleh : Abdullah Syauqi
Referensi : Kitab Hikmah At-Tasri' wa Falsafatuh
Karya : Syaikh 'Aly bin Ahmad Al-Jarhawy Al-Hanbaly



