Monday, June 6, 2011

MENGHAYATI BACAAN SHALAT KITA (Kajian Tafsir Surat Al-Fatihah_bagian ketiga dari empat coretan)

الحمد لله راب العالمين  والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه
أما بعد

TAFSIR AR-RAHMAN AR-RAHIM
(الرحيم   الرحمن ) SURAT AL-FATIHAH

Hubungan ayat ketiga (الرحيم   الرحمن ) dengan ayat sebelumnya (الحمد لله رب العالمين ) adalah bahwa Allah mengenalkan diriNya sebagai Pemelihara alam semesta. Kemudian Dia menegaskan jika dalam pemeliharaan dan pendidikan-Nya bukan atas dasar kesewenang-wenangan, tetapi diliputi dengan kasih sayang.

Pemeliharaan tidak dapat terlaksana dengan baik dan sempurna kecuali bila disertai rahmat kasih sayang.

Ayat ketiga (الرحيم   الرحمن ) bukan sebagai pengulangan pada ayat pertama (بسم الله الرحمن الرحيم ). Penekanan ayat ketiga ini bertujuan menjelaskan bahwa pendidikan dan pemeliharaan Allah sama sekali bukan untuk kepentingan Allah sendiri atau karena mengharap pamrih sebagaimana dilakukan manusia.

I Apa perbedaan AR-RAHMAN dan AR-RAHIM ?
Terdapat beberapa pendapat di bawah ini;
  1. RAHMAN ( رحمن ) dalam bahasa Arab berpola Fa’lan ( فعلان ) bermakna kesempurnaan. Kalimat ini tidak mempunyai bentuk jama’ (plural), sifat ini menunjukan kasih sayang Allah yang sangat sempurna dan tidak bisa disandang selain Allah.
RAHIM ( رحيم ) dalam bahasa Arab berpola Fa’iil ( فعيل ) bermakna kesinambungan. Kalimat ini mempunyai bentuk Jama’ (plural) yaitu Ruhama ( رحماء ), sifat ini bisa juga disandang oleh Allah dan makhluk lainnya. Sifat ini pernah disandang Rasulullah yang menaruh belas kasih kepada umatnya.
  1. Imam Al-Ghazali berpendapat;
·         “AR-RAHMAN” kata khusus yang menunjukkan kepada Allah (Rahmat yang dikandung oleh “RAHMAN” adalah rahmat khusus yang tidak dapat diberikan oleh makhluk karena sifatnya ukhrawi (di Akhirat).
·         “AR-RAHIM” kata yang bisa disandang oleh Allah dan RasulNya.
  1. Muhammad Abduh berkata;
·         “AR-RAHMAN” rahmat Tuhan yang sempurna tetapi sementara (di dunia).
·         “AR-RAHIM” menunjukkan pada kesinambungan dan kemantapan rahmat/nikmatNya (dapat terwujud di Akhirat kelak)
  1. Ulama lain berpendapat;
·         “RAHMAN” sifat dari perbuatan Allah, Dia mencurahkan rahmat secara faktual. Oleh karena Dia berhak menyandang sifat “RAHIM” (sifat zat Allah).
·         Jika dua kata ini digabungkan seakan bermakna ;
Allah, yang bersifat RAHMAN mencurahkan rahmat kepada seluruh makhluk karena Dia RAHIM, yakni Dia ALLAH zat yang memiliki sifat rahmat.

مالك يوم الدين
Sebelum mengetahui TAFSIR QS. AL-FATIHAH AYAT 4 ini, ada baiknya diketahui beberapa hal di bawah ini;
  1. Penempatan sifat-sifat Allah di awal surat Al-Fatihah (ayat 1-4) bukan sekedar untuk memperkenalkan diri-Nya, tetapi ia merupakan akibat dari sifat-sifat yang telah disebut sebelumnya.
  2. Hubungan ayat 4 dengan ayat sebelumnya menegaskan betapapun sempurna kasih sayang Allah kepada makhluk, bukan berarti makhluk bebas melakukan menurut nafsu yang dikehendakinya dan mudah melalaikan perintah-perintahNya, karena ia mengandalkan keluasan kasih sayang Allah.
  3. Ayat ke 4 ini menegaskan bahwa di Akhirat kelak, Dia akan meminta pertanggungjawaban manusia, karena Dia adalah pemilik “Hari Pembalasan” yang akan membalas manusia sesuai dengan usahanya di dunia.
E Tafsir kata مالك  . Dari segi bacaan, ayat ini bisa dibaca dengan dua cara, yaitu ;
  • ملك (huruf “mim” dibaca pendek), artinya Raja. Yaitu Dia zat yang menguasai dan menangani perintah dan larangan, memberi anugerah dan mencabutnya.
  • مالك  (huruf “mim” dibaca panjang), artinya Pemilik. Yaitu Dia zat yang berwenang penuh terhadap apa saja yang dimilikiNya.
E Tafsir kata يوم الدين   
  • “YAUM” (يوم) = Hari. Dalam Al-Qur’an ditulis sebanyak 365 kali sesuai bilangan hari dalam 1 tahun. Al-Qur’an menggunakan kata “YAUM” (hari, waktu, periode) bukan seperti hitungan di dunia (24 jam). Bisa sangat panjang atau hanya beberapa saat.
  • “AD-DIN” (الدين) dalam ayat ini berarti “pembalasan”, karena hari itu (kiamat) secara individual manusia menampakkan amal sebenarnya (pertanggungjawaban). Tujuannya adalah untuk memulihkan hak-hak kepada pemiliknya karena tidak jarang hubungan dalam masyarakat berjalan sangat timpang (ada hak-hak orang lain yang dirampas/tidak dipenuhi).

JADI, ayat ke 4 surat Al-Fatihah yang artinya “Allah Raja/Pemilik Hari Pembalasan (Kiamat)” terkandung dua makna;
  1. Hanya Allah yang mengetahui kapan tiba hari kiamat.
  2. Allah benar-benar menguasai segala sesuatu dan apapun yang terdapat pada saat itu. Jangankan untuk bertindak, berkata pun pada hari itu harus seizinNya. (Suasana pada saat itu sangat mencekam mengahadapi Sang Maha Raja)

Bagi orang yang meyakini atau menjiwai makna ayat ke empat ini, akan berfaidah;
·         Akan merasa tenang walau dianiaya karena ada Hari Pembalasan. Walaupun di dunia tidak dibalas, pasti akan terbalas di Akhirat.
·         Bertambah kesadarannya akan kekuasaan Allah SWT
·         Selalu awas dan hati-hati dalam bertindak dan berkata-kata.
·         Tidak mengukur segala sesuatu di dunia ini saja. Ia yakin berapa banyak aktifitas di sini (dunia), memetik buahnya di Akhirat. (Sehingga ketika amal atau do’anya tidak dibalas di dunia, ia tidak akan suuz zhon/buruk sangka kepada Allah, karena bisa jadi akan diwujudkan di Akhirat kelak)

إياك نعبد وإياك نستعين
Beberapa penjelasan yang berhubungan dengan ayat 5;

1.      Menurut sebuah hadis, kandungan surat Al-Fatihah dibagi dua bagian :
·         Setengah untuk Allah (ayat 1-4)
·         Setengah untuk hambaNya (ayat 5-7)
2.      Ayat ke-5 ini yang berarti “Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan” mengandung dua makna ;
·         Pengajaran Allah kepada hamba-Nya dalam berdo’a atau meminta.
·         Kecaman kepada mereka yang menyembah selain Allah.


     TAFSIR  إياك نعبد  
1. “IYYAKA” (إياك  )                       Hanya Kepada-Mu. Mengandung arti :
·         Menuntut pembacanya agar menghadirkan Allah dalam benaknya.
·         Mengandung arti khusus. Artinya, hanya Allah zat yang pantas disembah dan dimintakan pertolongan.
2.      “NA’BUDU” ( نعبد )             Kami menyembah/mengabdi. Kata “kami” (kekamian) mengandung beberapa pesan;
·         Menggambarkan ciri khas ajaran Islam, yaitu kebersamaan.
·         Setiap bentuk ibadah hendaknya dilaksanakan bersama.
·         Pengakuan kepada Allah bahwa ibadahnya belum sempurna (seakan ia berkata : “Ya Allah aku datang bersama yang lain yang lebih sempurna ibadahnya, maka gabungkanlah ibadahku dengan mereka agar diterima)
3. إياك نعبد                Hanya kepada-Mu kami menyembah/beribadah”. Berikut ini penjelasan tentang “ibadah”
a. “Ibadah” akar kata dari ‘Abd ( عبد ), mempunyai tiga arti diantaranya ;
·         Hamba Sahaya; seorang hamba sahaya memang tidak punya apa-apa. Begitu juga hamba Allah tidak ada yang dimiliki kecuali milik Allah.
·         Anak Panah;  seorang hamba sahaya adalah anak panah bagi tuannya yang dapat digunakan untuk tujuan yang dikehendakinya.
·         Aroma Harum; seorang hamba harus memberi aroma harum kepada lingkungan dan masyarakat di sektarnya.
b. “Ibadah” menurut Imam Al-Ghazali terdiri dari tiga unsur :
·         Si pengabdi meyakini bahwa ia tidak memiliki apa-apa kecuali Allah.
·         Usahanya tertuju pada mengindahkan perintah tuhannya.
·         Mengaitkan seluruh usaha dengan izin Allah.
4.   Menurut Ibnu Sina, ada tiga macam motivasi manusia dalam beribadah;
  • Ibadah karena takut siksa (seperti hamba sahaya, budak)
  • Ibadah karena mengharap surga (seperti pedagang/pekerja)
  • Ibadah karena dorongan cinta kepada Allah (seperti ibu terhadap bayinya)
5.      Hakikat Ibadah adalah menyadari bahwa apa yang berada di bawah genggaman si pengabdi pada hakikatnya milik Allah SWT.


    TAFSIR وإياك نستعين  (Dan hanya Kepada-Mu kami memohon pertolongan)
1.      Pertolongan/bantuan Allah ada yang berada dalam kemampuan manusia dan ada pula yang di luar kemampuannya. Memohon bantuan kepada Allah berarti hanya kepada Allah pengucap minta pertolongan. Adapun minta bantuan atau pertolongan kepada manusia bukan manusia mampu melakukannya , tetapi hakikatnya ia memohon kepada Allah agar manusia yang dimintakan bantuan mendapat kemudahan sehingga dapat membantu pemohon tersebut. (seperti seorang pasien yang meminta pertolongan kepada dokter).

2.      Peristiwa dalam kehidupan manusia ada dua;
·         Sunnatullah; hukum alam, sebab akibat. Yaitu ketetapan Allah yang lazim berlaku dalam kehidupan nyata. (seperti matahari terbit dari Timur, orang sakit sembuh sesudah minum obat)
* tetapi “sebab”  dan “akibat” tidak akan terjadi tanpa izin Allah.
  • Inayatullah; Pertolongan Allah di luar kelaziman yang berlaku. Sesuatu yang di luar kemampuan manusia bisa terwujud dengan bantuan Allah. (seperti pasukan muslim yang memohon kepada Allah untuk menurukan malaikat agar membantu pasukan muslim dalam perang Uhud melawan orang kafir).

3.      Memohon bantuan kepada Allah bukan berarti berpangku tangan. Pertolongan Allah akan terwujud bila ;
  • Pemohon mengikuti petunjuk yang telah ditetapkannya.
  • Pemohon tabah dalam melaksanakan tugas dan permohonannya.
  • Ada kerja sama antar manusia (Nabi bersabda : Allah tidak akan meolong hambaNya selama ia tidak menolong saudaranya)

F Mendahulukan kata إياك نعبد  (Hanya kepada-Mu kami menyembah) dari kata  وإياك نستعين (Dan Hanya kepada-Mu kami minta pertolongan) mempunyai maksud yaitu;
  • Dari segi makna : ibadah merupakan ibadah mendekatkan diri kepada Allah harus didahulukan sebelum memohon/minta bantuan.
  • Dari segi redaksi tulisan : lebih tepat mengakhiri نستعين  agar iramanya sama dengan ayat sebelum dan sesudahnya.
F Pengulangan kata إياك   pada ayat  إياك نعبد وإياك نستعين  karena kata إياك yang menunjukkan arti ibadah mengandung arti pengkhususan. Artinya, tidak diperkenankan memadukan motivasi ibadah dengan apa pun selain Allah. Tetapi  إياك yang menunjukkan arti permohonan bantuan mengandung arti umum. Artinya memang tidak ada salahnya memnta bantuan kepada manusia dalam hal-hal tolong menolong kebaikan.

وصلى الله على خير خلقه سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين

Sumber : Tafsir Al-Misbah, Prof Quraish Shihab











No comments:

Post a Comment