الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين
أما بعد
Apa yang anda bayangkan jika jalan yang dilalui banyak kendaraan tak memiliki rambu-rambu lalu lintas? Bagaimana jadinya jika semua pengendara mobil dan motor mengendarai kendaraannya tak menghiraukan rambu-rambu lalu lintas? Pantaskah jika para pengendara ditilang jika melanggar peraturan lalu lintas? Bukankah akan lebih indah, teratur dan lancar jika semua pengemudi mematuhi rambu-rambu lalu lintas? Pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan kehidupan di jalan raya ini pasti sudah jelas kita tahu jawabannya. Bahwa adanya rambu-rambu lalu lintas diciptakan untuk menertibkan para pangendara dan demi keselamatan semua pengemudi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kecelakaan, kemacetan, kesemrautan dan musibah lalu lintas lainnya.
Demikian pula dengan hidup. Hidup yang sedang kita nikmati sekarang yang sesaat ini. Apa yang anda bayangkan jika hidup ini tak memliki rambu-rambu kehidupan? Bagaimana jadinya jika semua manusia yang hidup tak menghiraukan rambu-rambu kehidupan yang sudah dibuat oleh Zat Yang Menghidupkan makhluk, Allah SWT? Pantas dan layakkah jika para pelanggar aturan Allah swt “ditilang” dengan azab dunia akhirat? Bukankah akan lebih nikmat dan berbahagia jika manusia mematuhi lalu lintas kehidupan ? Begitulah, sama halnya seperti kehidupan berkendaraan di jalan raya. Bahwa peraturan-peraturan Allah swt yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis merupakan sebuah upaya agar manusia yang merasakan hidup di dunia dapat menikmati keindahan dan keselamatan hidup. Perbedaan dua kehidupan ini (lalu lintas jalan raya dan lalu lintas kehidupan dunia) terletak pada “pembuat” peraturan. Pembuat peraturan dunia ini adalah Zat Yang Tak Pernah Lengah, Yang Tak pernah membutuhkan apapun dari manusia, dan Yang tak pernah diajak kompromi berserikat dalam kebatilan. Beda halnya dengan pembuat peraturan lalu lintas jalan raya yang kadang lengah, pernah salah dan sering berserikat dalam kompromi melanggar aturan (biasanya hanya oknum saja).
Terkadang, pernah terpikir dalam benak kita ; “Kenapa yang enak-enak di dunia ini diharamkan? Mengapa agama ini selalu banyak aturan ? Bukankah manusia hidup bebas sesuai kehendaknya ? Kapan lagi menikmati dunia, bukankah hidup cuma sekali ? Selama tidak merugikan orang lain, kenapa harus dilarang ? Bosan dengan banyak aturan !” Demikian sederet keluhan yan pernah kita dengar atau pernah kita sendiri yang mengutarakan. Terhadap orang yan berkeluh-kesah seperti ini, seakan aturan Tuhan dijadikan suatu hal yang membebani hidup. Dorongan hawa nafsunya lebih tinggi dari pada fitrah keimanannya. Sudah dipastikan mereka sedang dikendalikan oleh hawa nafsunya. Dirinya dikendalikan hawa nafsu, sedang akal dan keimanannya tak berdaya menguasainya.
Kemana kita akan menuju dalam perjalanan dunia ini ? Jelas menuju alam akhirat, tepatnya di Jl. Siratol Mustaqim No. 99 Kampung Surga Firdaus, Daar Assalam. Di akhir tujuan inilah ada satu kenikmatan yang tak ternilai, dimana para pengunjung dan penghuninya akan berseri-seri wajahnya melihat “wajah tuhannya” (baca : QS. AlQiyamah : 22-23). Sebuah kenikmatan ukhrawi yang mengalahkan semua kenikmatan. Di tempat inilah akhir dari semua perjalanan. Tak ada satu pun orang yang dapat mebayangkan betapa nikmat tempat itu. Tidak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas dalam hati. Begitulah gambaran kenikmatan yang tiada tanding tiada banding. Untuk mengetahui lagi gambaran kenikmatan ini, baca dan kajilah lagi informasinya melalui kitab suci Al-Qur’an. (QS. Al-Kaahfi 30 – 31 , QS. Shad 49 – 54, QS. Ad-Dukhan : 51 – 57, QS. Al-Waqi’ah : 13 – 38 dll)
Sebagai tempat akhir sebuah tujuan perjalanan hidup, tentu banyak orang yang berkepentingan menuju tempat itu. Oleh karena banyaknya makhluk yang berminat menuju ke arah sana maka sudah seharusnya perjalanan dilalui dengan tertib, tanpa adanya pihak yang dirugikan. Oleh karena itu, demi ketertiban dan kelancaran semua pengendara maka Pemilik tempat ini membuat sederet rambu-rambu lalu lintas dunia akhirat. Patuhilah beberapa rambu yang telah di pasang di setiap sudut perjalanan hidup. Jangan harap berada di gerbang apalagi dapat masuk tempat ini bagi para pengendara yang selalu melanggar peraturan rambu-rambu lalu lintas dunia akhirat. Tilang atau denda dari Tuhan berupa siksa dan derita layak bagi mereka yang melanggar.
Kalau saja para pengguna jalan hidup ini sadar akan betapa pentingnya sebuah rambu-rambu lalu lintas kehidupan dan sadar akan tempat berakhirnya di Akhirat sana, maka keluhan-keluhan seperti yang diutarakan di atas tidak terucap lagi atau tidak terintas lagi. Keluhan itu biasanya timbul karena ketidaktahuan seseorang mengenai manfaat di balik sesuatu yang dikeluhkan. Bukankah seorang anak kecil mengeluh bahkan marah-marah ketika diperintah belajar terus-menerus leh orang tuannya? Tetapi keluhan dan amarah itu akan hilang tatkala ia sudah besar dan menyadari bahwa betapa manfaatnya belajar di waktu kecil.
Untuk mengetahui aneka maca rambu-rambu lalu lintas, rujuklah kembali dan pelajari dalam kitab undang-undang yang termuat dalam Al-kitab dan Al-Hadis. Sebuah buku pedoman meraih dan menuju ke pusat tempat segala kenikmatan abadi, surga Allah swt.
“Selamat menempuh perjalanan dunia menuju negeri Akhirat”
Jangan lupa, Pakai sabuk pengaman ! (Tahan hawa nafsu)
Periksa kelayakan kendaraan anda ! (Sehat dan jangan lupa puasa)
Gunakan Helm saat berkendaraan ! (Fungsikan sifat malu. Malu sebagian dari iman)
Lengkapi surat-surat kendaraan anda ! (Mantapkan syahadat, ketakwaan dan keimanan)
Kurangi kecepatan kendaraan anda ! (Jangan tergesa-gesa. Tergesa-gesa itu berasal dari setan)
Jaga jarak jika berhenti ! (Jangan sakiti atau lukai orang lain )
Dilarang Masuk. Satu Arah ! (Hindari ibadah bid’ah. Bid’ah dolalah/sesat)
Dilarang berhenti. Dilarang Parkir ! (Jangan ke tempat maksiat. Jangan meremehkan agama)
Belok kanan, putar balik ! (Silahkan tobat, jalan kembali dengan benar )
Bayar Tol ! (jangan lupa zakat, infak dan sedekah)
Awas tikungan tajam ! (Hati-hati terdapat prilaku maksiat)
Maaf, perjalanan anda terganggu ! (Sabar terhadap musibah dan ujian)
“Selamat sampai tujuan”
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه
Abdullah Syauqi Bin Ahbab
No comments:
Post a Comment