![]() |
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين
أما بعد
Arena kehidupan semua makhluk berujung di alam yang bernama "alam akhirat. Sebelum masuk ke alam akhirat, seluruh manusia (yang masih hidup kala itu) akan mengalami dimana bumi diguncangkan Allah SWT dengan guncangan yang luar biasa. Ya gucangan yang belum pernah dirasakan oleh siapapun. Kehebatan dan kedasyatan guncangan tersebut sampai saja isi perut bumi seluruhnya keluar. Kondisi ini terjadi di seluruh wilayah. Dipastikan tak ada sedikit celahpun tempat yang selamat dari guncangan yang dasyat ini. Inilah perbedaan antara guncangan yang selama ini terjadi (gempa bumi) yang hanya memporakporandakan di sebagian wilayah.
Dalam kondisi mencekam tersebut manusia tidak sempat lagi memikirkan orang lain, saudara, orang tua, anak, kerabat apalagi orang lain. Mereka dalam keadaan bingung yang diselimuti rasa takut, bingung dan tak berdaya. Kesombongan, kekayaan, kemewahan dan bentuk kebanggan lainnya runtuh bersamaan runtuhnya hati mereka karena ketakutan. Mereka semua bertanya ; “Apa yang terjadi saat ini?”. Seakan bumi yang berguncang itu menjawab dan memberi tahu kabar beritanya bahwa Allah SWT telah memerintahkan seperti ini (bumi berguncang). Pada hari itu manusia setelahnya akan dibangkitkan kembali menuju Tuhannya untuk dilakukan perhitungan amal. Saat itulah manusia berkumpul dan menghadap Allah dalam keadaan yang bermacam-macam sesuai dengan tingkat keimanan dan kekufuran agar mereka dapat melihat masing-masing amalnya.
Mengenai amal perbuatan manusia, Allah menjelaskan bahwa sekecil apapun kebaikan atau keburukan yang dilakukan manusia di pentas bumi ini, niscaya ia akan melihatnya tanpa satu pun yang terlewatkan. Indikasi ini dipahami dari lafaz ( ذَرَّة ) “zarroh” yang semula memiliki arti semut kecil, kepala semut, debu yang bertebaran di celah angin yang berada di bawah sinar matahari”. Apapun artinya kalimat ini menunjukkan bahwa sekecil apapun manusia pasti akan diperlihatkan. Simaklah kembali ayat ke 7 dan 8 surat ini ! Suatu berita baik yang memotivasi para hamba serta dituntut kehati-hatian dalam bersikap dan berucap.
Kedua ayat ini turun dilatarbelakangi dari peristiwa dua kelompok masyarakat Madinah kala itu. Pertama, ada yang merasa malu memberi kepada peminta-minta jika sebiji kurma atau hanya sepoting roti saja. Kedua, ada orang yang meremehkan perbuatan dosa kecil dengan alasan ancaman Allah hanya ditujukan kepada pelaku dosa besar. Kedua ayat inilah turun sebagai bantahan dari kedua kelompok di atas. Mengenai keengganan seseorang memberikan sedikit yang ia miliki untuk dibagikan kepada orang lain, Nabi Muhammad pernah bersabda ; “Lindungilah diri kamu dari api neraka walau dengan sepotong kurma”. Sedang yang terkait dengan orang yang meremehhkan perbuatan dosa kecil, Nabi SAW juga pernah mengingatkan dalam hadisnya, “Hindarilah dosa-dosa kecil karena sesungguhnya ada yang menuntut pelakunya dari sisi Allah di hari kemudian.”
Termasuk dalam kategori amal yang akan diperlihatlkan nanti adalah niat seseorang. Hal ini karena dalam amal merupakan penggunaan daya manusia dalam bentuk apapun. Manusia memiliki empat daya pokok, yaitu :
1. Daya hidup : melahirkan semangat untuk menghadapi tantangan
2. Daya pikir : menghasilkan ilmu dan teknologi
3. Daya qalbu : mengahasilkan niat, imajinasi, kepekaan dan iman
4. Daya fisik : melahirkan perbuatan nyata
Pesan yang bisa ditangkap dari uraian di atas adalah sebuah peringatan alangkah banyaknya peristiwa besar baik positif maupun negatif yang bermula dalam hal kecil. Perbuatan kebaikan misalnya, tidak disangka ternyata mengucapkan kalimat tauhid “la ilaha illallah” balasannya adalah surga. Menyingkirkan sesuatu yang menghalangi jalan adalah sedekah yang balasan besar di sisi Allah. Membaca surat Al-Ikhlas tiga kali pahalanya besar bagaikan membaca Al-Qur’an 30 juz. Begitulah contoh seterusnya. Demikian pula dalam hal keburukan, bukankah api yang membakar hangus ratusan rumah bisa saja disebabkan dari bara puntung rokok yang sangat kecil? Demikianlah seperti halnya kata yang terucap tanpa sengaja dampak berdampak pada seseorang yang kemudian melahirkan dampak lain kepada banyak orang. Oleh karena itulah berhati-hatilah dalam bertindak dan berucap, serta lakukanlah kebaikan walau dipandang kecil. Ibda’ bi nafsik, “mulailah dari dirimu sendiri !
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه
Sumber : Tafsir Al-Mishbah Prof Quraish Shihab

No comments:
Post a Comment